KUNINGAN, liputan62.net-
Pendidikan sejatinya adalah cahaya yang menerangi, dan lembaga pendidikan seharusnya menjadi ruang yang terbuka bagi transparansi. Namun, anomali dan ironi justru terjadi di SMKN 1 Mandirancan, Kabupaten Kuningan. Di tengah tuntutan era keterbukaan informasi, sekolah yang dipimpin oleh Jajuli, S.Pd., M.M., ini justru seolah berubah menjadi "benteng tak tertembus" yang menutup rapat-rapat pintunya dari sorotan media.
Rabu, 30 September 2026, menjadi hari yang kembali diwarnai kekecewaan bagi Media liputan62. Bukan karena ketiadaan niat baik, melainkan karena dinding tebal birokrasi dan sikap arogansi yang seolah dibangun oleh pihak sekolah.
Niat Baik Berujung Punggung yang Menoleh
Catatan redaksi liputan62 menyebutkan, ini bukanlah kunjungan pertama. Sudah tiga kali tim jurnalis datang ke gerbang SMKN 1 Mandirancan. Tiga kali pula mereka membawa itikad luhur: bersilaturahmi, menjalin sinergitas, dan meminta konfirmasi terkait dinamika pendidikan di sekolah tersebut. Media datang dengan sopan santun, mengenakan atribut resmi, dan menunggu dengan sabar di ruang tamu.
Namun, apa yang didapat? Sebuah penolakan halus yang berujung pada pengabaian.
"Kami datang dengan kepala tertunduk sopan, membawa niat baik untuk kemajuan sekolah. Namun, kami seolah tidak dianggap ada. Kami merasa sangat tidak dihargai," ungkap perwakilan Media liputan62 dengan nada menahan kekecewaan di lokasi, Rabu (30/9).
Selama tiga kali kunjungan, Kepala Sekolah, Jajuli, S.Pd., M.M., tidak pernah sekalipun sudi memperlihatkan wajahnya untuk menemui pihak media. Begitu pula dengan staf Humas, yang sejatinya adalah jembatan komunikasi antara sekolah dan publik, justru bertindak sebagai "tameng" yang menghalangi wartawan untuk bertemu dengan pimpinannya.
Alasan Klise dan Dugaan Ketakutan akan Eksposur
Setiap kali dikonfirmasi, pihak sekolah selalu melontarkan alasan klise yang sama. "Kepala Sekolah sedang sibuk," "Sedang ada rapat mendesak," atau Humas sedang tidak di tempat."
Padahal, jika memang benar sedang sibuk, etika birokrasi dan kesopanan menuntut seorang pemimpin untuk setidaknya menyempatkan waktu lima menit untuk menyapa tamu, terlebih tamu tersebut adalah mitra kontrol dari media. Namun, Jajuli dan jajarannya seolah memilih jalan lain: pura-pura tidak tahu dan menghindar.
Sikap "menghilang" ini tentu bukan tanpa sebab. Di kalangan pengamat dan masyarakat setempat, penolakan berulang kali ini memancing spekulasi liar dan tanda tanya besar.
Ada apa di balik tirai SMKN 1 Mandirancan? Mengapa sebuah lembaga pendidikan negeri yang dananya bersumber dari keringat rakyat ini begitu alergi terhadap kehadiran pers? Apakah ada "permainan" yang sedang dipertahankan? Ataukah ada program-program yang jika disorot media, akan membongkar ketidakberesan yang selama ini tersembunyi di balik meja kerja Kepala Sekolah?
Ketidaksediaan untuk bertemu dan memberikan klarifikasi sering kali menjadi indikator kuat adanya ketakutan akan eksposur. Transparansi adalah musuh bagi mereka yang bermain di area abu-abu, dan media adalah mimpi buruk bagi mereka yang tidak bersih.
Sekolah Negeri Bukan Kerajaan Pribadi
Sikap menutup diri ini bukan hanya mencederai etika jurnalistik, tetapi juga melanggar semangat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP). Sebagai badan publik yang menggunakan anggaran negara, SMKN 1 Mandirancan memiliki kewajiban hukum untuk membuka diri, melayani informasi, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
"SMKN 1 Mandirancan adalah milik rakyat, bukan kerajaan pribadi. Kepala Sekolah dan Humas digaji oleh negara untuk melayani publik, bukan untuk membangun tembok ketidakterjangkauan dari kontrol masyarakat dan pers," tegas tim liputan62
Ketika media dipersulit, yang dirugikan bukanlah wartawan, melainkan para siswa, orang tua, dan masyarakat Mandirancan itu sendiri. Mereka berhak tahu apakah sekolah mereka dikelola dengan bersih, transparan, dan berorientasi pada kualitas, atau justru terjebak dalam praktik-praktik yang takut melihat cahaya.
Tantangan untuk Jajuli dan Jajaran
Media liputan 62 menegaskan, kehadiran mereka bukan untuk mencari-cari kesalahan, melainkan untuk memastikan bahwa roda pendidikan di SMKN 1 Mandirancan berjalan di atas rel yang benar. Namun, jika pihak sekolah terus memilih untuk bersembunyi di balik alasan "kesibukan", maka publik akan menyimpulkan bahwa memang ada sesuatu yang busuk yang harus disembunyikan.
Hingga berita ini diturunkan pada Rabu malam, 30 September 2026, Jajuli, S.Pd., M.M., beserta staf Humas SMKN 1 Mandirancan masih bungkam. Mereka memilih untuk tidak berkomentar dan terus menutup pintu.
Pertanyaannya kini terpampang jelas di udara Kuningan: Sampai kapan SMKN 1 Mandirancan akan terus mengunci pintunya? Dan seberapa besar ketakutan yang menghantui ruang kerja Kepala Sekolah hingga enggan sekadar menyapa media yang datang dengan tangan kosong dan hati yang tulus?
Masyarakat Mandirancan kini menanti. Apakah cahaya transparansi akan segera menyinari sekolah ini, atau akan terus dibiarkan redup oleh mereka yang berkuasa di dalamnya?
Juned liputan 62



