BLOK KONDA! Predator Berkedok 'Abah' Perkosa Siswi SD Berkebutuhan Khusus, Perangkat Desa Girinata Malah Bungkam.

 

CIREBON, liputan62.net-

29 September 2026 – Gelar kehormatan 'Abah' yang seharusnya disematkan pada pria yang bijak dan dihormati, kini berlumuran darah dan air mata di Cirebon. Pria berinisial A, warga Blok Konda, Desa Girinata, Kecamatan Dukupuntang, terbukti bukan sosok suci. Ia adalah monster bertopeng kesalehan yang tega memangsa gadis kecil tak berdaya.

Namun, yang membuat darah publik mendidih bukanlah sekadar kejahatan asusila biasa. Ini adalah cerita tentang kekejaman tingkat tinggi terhadap korban yang paling rentan. T, siswi kelas 6 SD yang lahir dengan keterbatasan mental dan emosi yang tidak stabil, dijadikan sasaran empuk oleh nafsu bejat sang 'Abah'. 

Modus Licik dan Sarang di Blok Konda

Bayangkan kekejaman ini! A tidak memilih korban sembarangan. Ia dengan dingin menargetkan anak yang secara psikologis tidak mampu memahami bahaya dan tidak bisa membela diri. Modusnya klasik namun sangat keji: mengiming-imingi uang jajan receh untuk memancing T masuk ke sarangnya di Blok Konda.

Pintu rumah di Blok Konda, Desa Girinata (TKP)itu tertutup, mengurung masa depan T. Begitu masuk, uang jajan yang dijanjikan lenyap. Sebagai gantinya, T dipaksa membuka pakaiannya. Mengetahui kondisi mental T yang rapuh dan tidak stabil, A dengan sadis melampiaskan nafsunya. Bukan sekali, manusia berwujud iblis ini memaksa anak tak berdaya itu melayani keinginannya hingga dua kali berturut-turut di TKP. Keperawanan dan kepolosan seorang anak kecil direnggut paksa oleh pria yang sudah beristri.

Teror Psikologis dan Tembok Kebungkaman di Balai Desa.

T hanya bisa menangis terisak, tubuhnya gemetar, dan pikirannya yang memang tidak stabil kini semakin hancur lebur. A membisikkan ancaman mematikan agar korban tidak melapor. Ancaman itu sukses mengunci mulut T, membiarkannya tenggelam dalam trauma dan ketakutan setiap malam.

Namun, plot cerita ini tidak berhenti pada kejahatan sang predator. Ada babak yang jauh lebih mengerikan: pembiaran oleh orang-orang yang seharusnya mengayomi.

Ketika keluarga T yang hancur dan penuh air mata datang melapor ke Balai Desa Girinata, mereka disambut oleh tembok tebal kebungkaman. Tidak ada empati, tidak ada tindakan, tidak ada kecaman. Pihak desa seolah 'mati rasa' dan memilih menelan mentah-mentah laporan keluarga korban. 

Ada Apa di Desa Girinata? Apakah Hukum Punya Harga?

Sikap apatis perangkat Desa Girinata ini memancing tanda tanya besar yang berbau konspirasi. Ada apa sebenarnya di balik tembok kantor desa? Apakah hukum di tingkat desa kini punya harga? Apakah ada 'udang di balik batu' yang membuat perangkat desa memilih menelanjangi rasa keadilan demi melindungi 'Abah' palsu ini? 

Ketika aparat desa memilih menjadi tuli dan bisu atas jeritan anak berkebutuhan khusus yang diperkosa, publik berhak curiga: Ada persekongkolan busuk di sana!Mungkinkah ada transaksi di bawah meja? Ataukah perangkat desa takut pada sosok 'Abah' karena adanya hubungan kekuasaan tertentu?

Tuntut Polda dan KPAI Turun Gunung!

Kasus di Blok Konda ini bukan lagi ranah hukum biasa, ini adalah ujian bagi nurani Kabupaten Cirebon. Kita tidak bisa membiarkan anak berkebutuhan khusus diperkosa, lalu pelakunya dilindungi oleh sistem desa yang korup.

Masyarakat yang murka mendesak Polres Cirebon, Polda Jabar, dan KPAI untuk segera turun gunung dan mengambil alih kasus ini. dari tangan perangkat desa yang bermasalah. 

Penjarakan predator 'Abah' dengan hukuman maksimal, dan yang tak kalah penting: bongkar habis dugaan mafia hukum di Desa Girinata!Jangan biarkan keadilan untuk T diperjualbelikan di atas penderitaan anak kecil.


Sugi liputan 62

Lebih baru Lebih lama





نموذج الاتصال