Dampak kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Pati, Jawa Tengah mulai dirasakan sangat parah oleh para petani tambak di wilayah pesisir utara. Salah satunya dialami oleh petani tambak bandeng di Desa Pekuwon Baru, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati.
Sabtu 24/10/2026
Ratusan hektar tambak bandeng di Pekuwon Baru kini dalam kondisi kering kerontang, tanah pecah-pecah, dan tidak bisa diisi air. Akibatnya, para petani tambak tidak bisa melakukan tebar benih bandeng dan terancam gagal panen serta merugi hingga puluhan juta rupiah.
Air Laut Surut Jauh, Sungai Asin Mengering, Pintu Air Tak Berfungsi
Pantauan di lapangan, kondisi tambak-tambak di Desa Pekuwon Baru sangat memprihatinkan. Saluran air primer yang biasanya mengalirkan air laut dan air sungai asin menuju tambak, kini debitnya sangat kecil bahkan mengering.
Air laut surut terlalu jauh dan intrusi air asin tidak sampai ke area tambak. Ditambah lagi, sungai-sungai kecil di sekitar Juwana yang menjadi sumber air tambak mengalami pendangkalan dan kekeringan akibat tidak ada hujan selama berbulan-bulan.
"Biasanya bulan-bulan ini tambak sudah terisi penuh dan sudah tebar nener (bibit bandeng). Tapi tahun ini karena kemarau panjang sekali, tambak kami tidak bisa diisi air. Pintu air dibuka tapi air tidak masuk. Tambak jadi kering, tanahnya sampai retak-retak," keluh salah satu petani tambak bandeng Pekuwon Baru, Juwana.
Petani Merugi, Nener Bandeng Mati, Modal Hilang
Akibat tidak bisa mengisi tambak, banyak petani yang sudah terlanjur membeli bibit nener bandeng harus gigit jari. Nener yang sudah dibeli tidak bisa ditebar karena tidak ada air, akhirnya mati dan modal hilang.
Untuk satu hektar tambak bandeng, petani membutuhkan modal Rp 15 juta hingga Rp 25 juta untuk pembelian nener, pakan, pupuk tambak, dan biaya operasional. Dengan gagalnya pengisian air, modal tersebut terancam hangus.
"Modal sudah keluar untuk beli nener, tapi mau ditebar kemana? Tambak kering. Kalau dipaksakan tebar, ikan mati karena airnya panas dan asinnya terlalu tinggi. Kami rugi bandar tahun ini," tambah petani lain.
Saat ini, puluhan petani tambak di Pekuwon Baru terpaksa menganggur dan hanya bisa menunggu hujan turun. Beberapa petani mencoba menyedot air dengan diesel, namun biayanya sangat mahal dan hasilnya tidak maksimal karena air yang keluar hanya sedikit dan kualitas air buruk.
Harapan Petani: Normalisasi Saluran dan Bantuan Pemerintah
Para petani tambak bandeng di Pekuwon Baru, Juwana berharap Pemerintah Kabupaten Pati melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pati dan Dinas PUTR Pati segera turun tangan membantu.
Harapan mereka:
1. Normalisasi dan pengerukan saluran air tambak yang dangkal dan tersumbat lumpur, agar saat pasang air laut bisa masuk ke tambak
2. Bantuan pompa air / diesel untuk membantu petani mengisi tambak
3. Bantuan benih nener bandeng saat musim hujan tiba untuk memulai kembali budidaya
4. Pengecekan kualitas air dan penyuluhan budidaya saat kemarau ekstrem
Desa Pekuwon Baru, Kecamatan Juwana merupakan salah satu sentra budidaya bandeng terbesar di Kabupaten Pati. Jika kemarau panjang terus berlanjut, dikhawatirkan akan berdampak pada stok bandeng di pasaran Juwana dan Pati, serta mengancam ketahanan ekonomi ratusan keluarga petani tambak.
Warga berharap hujan segera turun agar tambak-tambak mereka bisa kembali terisi air dan roda perekonomian petani tambak bandeng Pekuwon Baru bisa kembali berputar.
Reporter Liputan 62 : _ Karyono _



