JAKARTA, liputan62.net —
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan hebat pada perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (19/10/2026). Pada perdagangan sesi I, IHSG anjlok 5,05 persen atau sekitar 261,84 poin ke level 4.923,26.
Penurunan tersebut membuat IHSG kembali berada di bawah level psikologis 5.000 dan menjadi salah satu perhatian utama pelaku pasar pada awal pekan ini. Data perdagangan menunjukkan sebanyak 744 saham melemah, sementara hanya 42 saham menguat dan 13 saham tidak mengalami perubahan.
Tekanan jual juga terlihat pada sejumlah saham berkapitalisasi besar atau big caps, termasuk saham perbankan. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat turun sekitar 6,86 persen ke level Rp4.820 per saham, sedangkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melemah sekitar 6,82 persen ke level Rp2.460 per saham.
Sementara itu, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turun sekitar 2,65 persen ke level Rp3.300 dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) terkoreksi sekitar 3,70 persen ke level Rp2.860 pada akhir sesi I.
BEI Turunkan Batas ARB Jadi 7 Persen
Di tengah tekanan pasar tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai menerapkan perubahan batas Auto Rejection Bawah (ARB) menjadi 7 persen.
Kebijakan tersebut berlaku mulai Senin, 19 Oktober 2026 hingga 31 Desember 2026. Sebelumnya, batas ARB untuk saham berada di angka 15 persen.
BEI menyatakan penyesuaian tersebut dilakukan dengan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menjaga perdagangan efek tetap berlangsung secara teratur, wajar dan efisien serta membantu mengendalikan volatilitas pasar.
Dengan aturan baru tersebut, sejumlah saham besar langsung menyentuh batas ARB. Selain BBCA dan BBRI, saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) juga tercatat berada di sekitar batas penurunan 7 persen.
Investor Asing Catat Net Sell Rp1,05 Triliun
Tekanan IHSG juga diperkuat oleh aksi jual investor asing. Hingga akhir sesi I, investor asing tercatat melakukan net sell sekitar Rp1,05 triliun.
Saham BBCA menjadi salah satu saham yang paling banyak dilepas investor asing dengan nilai net sell sekitar Rp670,83 miliar. Selanjutnya BBRI sekitar Rp515,17 miliar dan TLKM sekitar Rp205,54 miliar.
Secara keseluruhan, nilai transaksi perdagangan pada sesi I mencapai sekitar Rp10,03 triliun, dengan volume transaksi mencapai 16,89 miliar saham.
IHSG Tertekan Sentimen Pasar Global
Kondisi pasar saham Indonesia saat ini juga tidak terlepas dari meningkatnya ketidakpastian setelah pengumuman MSCI terkait konsultasi mengenai kemungkinan reklasifikasi Indonesia dari status Emerging Market menjadi Standalone Market.
Pengumuman tersebut memicu kekhawatiran investor dan meningkatkan tekanan jual di pasar saham Indonesia. Pada perdagangan Jumat (16/10/2026), IHSG bahkan sebelumnya anjlok 11,57 persen hingga memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt.
BEI menyebut proses yang diumumkan MSCI masih berupa konsultasi dan belum merupakan keputusan final. Bursa juga berencana meminta klarifikasi lebih lanjut mengenai dasar pertimbangan MSCI.
Dengan tekanan yang masih tinggi, investor kini mencermati perkembangan sentimen MSCI, arus dana asing, kinerja saham perbankan serta langkah regulator dalam menjaga stabilitas perdagangan saham.
Catatan: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi memiliki risiko dan sebaiknya dilakukan berdasarkan analisis serta pertimbangan masing-masing investor.



